Sabtu, 07 November 2015

Klasifikasi Agregat

Klasifikasi Agregat

Agregat, apa itu agregat? Orang awam atau non-teknik sipil mungkin tidak mengetahui apa itu agregat. Agregat atau lebih tepatnya disebut batuan oleh orang awam, merupakan material yang paling sering digunakan dalam proyek konstruksi. Baik untuk jalan maupun untuk pembangunan gedung. Dan tentu saja, para perencana konstruksi punya alasan tersendiri asal mula penggunaan agregat pada proyek konstruksi.
Agregat merupakan batuan yang terbentuk dari formasi kulit bumi yang padat dan solid. Berdasarkan asal pembentukannya agregat diklasisifikasikan kedalam batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Sedangkan berdasarkan proses pengolahannya agregat digolongkan menjadi 2 (dua) macam, yaitu agregat alam dan agregat buatan.
Agregat alam merupakan agregat yang bentuknya alami, terbentuk berdasarkan aliran air sungai dan degradasi. Agregat yang terbentuk dari aliran air sungai berbentuk bulat dan licin, sedangkan agregat yang terbentuk dari proses degradasi berbentuk kubus ( bersudut) dan permukaannya kasar. Contoh agregat alam yang sering dipergunakan adalah kerikil dan pasir. Kerikil adalah agregat yang mempunyai diameter lebih dari ¼ inchi (6,35 mm), sedangkan pasir berukuran kurang dari ¼ inchi, tetapi lolos saring No. 200 atau lebih besar dari 0,075 mm.
Permintaan akan agregat alam yang berbentu kubus atau bersudut, mempunyai permukaan kasar, dan bergradasi baik yang semakin banya tidak mungkin seluruhnya dapat dipenuhi oleh degradasi alami. Oleh karena itu, agregat alam juga dapat dibentuk dengan cara pengolahan. Penggunaan alat pemecah batu (crusher stone) yang terkontrol dapat membentuk agregat sesuai bentuk yang dibutuhkan. Terutama untuk pembangunan jalan.  Agregat alam yang berasal dari tempat terbuka disebut pitrun, sedangkan yang berasal dari tempat tertutup disebut bankrun.
Selain agregat alam, juga terdapat agregat buatan. Agregat buatan merupakan agregat yang berasal dari hasil sambingan pabrik-pabrik semen dan mesin pemecah batu. Agregat buatan sering disebut filler (material yang berukuran lebih kecil dari 0,075 mm).
Berdasarkan besar partikel-partikelnya agregat dapat dibedakan atas agregat kasar, agregat halus dan abu/filler. Menurut ASTM agregat kasar berukuran > 4,75 mm, dan agregat halus berukuran < 4,75 mm. Sedangkan menurut AASHTO agregat kasar berukuran > 2 mm dan agregat halus berukuran antara 0,075 mm hingga < 2 mm.

Jumat, 06 November 2015

Cara Pembuatan benda uji untuk tes beton

Cara Pembuatan benda uji untuk tes beton

Cara pembuatan benda uji untuk tes beton cukup sederhana namun tetap perlu memeperhatikan beberapa hal agar tes beton yang akan kita lakukan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. secara umum terdapat dua macam jenis benda uji beton yaitu:
  • Kubus beton ukuran panjang 15 cm lebar 15 cm tinggi 15 cm.
  • Silender beton ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm.
Pada perhitungan nilai kuat tekan beton umur 3 sampai 28 hari perlu dilakukan konversi ke keumur 28 hari, dan konversi benda uji kubus ke silinder, keterangan selengkapnya dapat dilihat pada artikel yang secara khusus membahas tentang tabel konversi kuat tekan beton  berikut ini uraian cara membuat benda uji misalnya mau dibuat 4 buah

TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan beton yang keras dalam bentuk kubus dan silinder ( masing-masing empat buah ), yang akan digunakan sebagai benda uji dalam pemeriksaan kekuatan tekan beton.
PERALATAN
  • Cetakan dari baja berbentuk kubus dan silinder masing-masing 4 buah.
  • Meja penggetar.
  • Pisau perata.
  • Sendok.
  • Bak perendam atau karung basah.
  • Alat bantu lainya.

PROSEDUR PERCOBAAN PEMBUATAN BENDA UJI

  • Cetakan dibersihkan dan dilumasi dengan minyak.
  • Adukan dimasuukan kedalm cetakan dengan menggunakan sendok semen, dan dipadatkan dengan meletakkan cetakan diatas meja penggetar sampai permukaan adukan beton terlihat basah dan tidak ada gelembung udara yang naik kepermukaan.
  • Permukaan adukan diratakan dengan menggunakan pisau perata.
  • Setelah itu setiap cetakan diberi tanda ( nomor kelompok dan group ) serta dicatat tanggal percobaannya.
benda uji tes beton

Cara Tes Kuat Beton

Cara Tes Kuat Beton

Dewasa ini material beton banyak digunakan sebagai bahan utama pembangunan rumah tinggal, gedung bertingkat tinggi, infrastruktur jembatan, jalan raya dan sejenisnya. Ada macam-macam jenis beton berdasarkan kuat tekanya, Kekuatan tekan beton adalah beban persatuan luas yang menyebabkan beton hancur.  oleh karena itu dalam penggunaanya perlu dicari berapa nilai kuat tekan betonnya agar sesuai dengan kebutuhan struktur yang direncanakan. cara mengetahuinya juga cukup mudah, disini coba kita uraiakan sebuah cara tes kuat tekan beton. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder, percobaan ini bisa dibuat dan dirawat (cured) di laboratorium.

PERALATAN TES BETON
Mesin penguji tekanan beton lengkap dengan alat bantu seperti alat pembuat benda uji beton

PROSEDUR PENGUJIAN BETON

  1. Ambil benda uji yang akan ditentukan kekutan tekanan dari bak perendam, kemudian bersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain pelembab. benda uji dapat menggunakan bentuk kubus ukuran 15cm x 15 cm atau silinder diamter 15 cm dengan tinggi 30 cm.
  2. Tentukan berat dan ukuran benda uji.
  3. Letakkan benda uji pada mesin secara sentries. sesuai dengan tempat yang tepat pada mesin tes kuat tekan beton.
  4. Jalankan benda uji atau mesin tekan dengan penambahan beban konstan berdasar 2 sampai 4 kg/cm2 per detik.
  5. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.
  6. Pengujian kuat tekan beton ini dilakukan pada saat beton berumur 3,7,14 dan 28 hari lalu diambil rata-rata.
  7. Untuk menghitung kekuatan beton pada umur hari kesekian dapat membaca artikel yang khusus membahas tentang tabel konversi beton umur 3 sampai dengan 28 hari.
  8. Beton yang sering digunakan untuk pekerjaan bangunan antara lain K-225, K-250, K-300, K-350, K-400, K-450, K-500 dan berbagai ukuran kuat tekan lain menyesuiakan dengan kebutuhan kekuatan struktur.

PERHITUNGAN

Kekuatan tekan beton = P/A (kg/cm2)
Dimana :
  • P = Beban maksimum (kg)
  • A = Luas penampang benda uji (cm2)
 
Gambar alat tes kuat tekan beton

Uji Slump Beton

Uji Slump Beto

Tes Beton
Mengukur nilai slump

Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode yang digunakan untuk menentukan konsistensi/kekakuan (dapat dikerjakan atau tidak)dari campuran beton segar (fresh concrete) untuk menentukan tingkat workability nya. Kekakuan dalam suatu campuran beton menunjukkan berapa banyak air yang digunakan. Untuk itu uji slump menunjukkan apakah campuran beton kekurangan, kelebihan, atau cukup air. 
Dalam suatu adukan/campuran beton, kadar air sangat diperhatikan karena menentukan tingkat workability nya atau tidak. Campuran beton yang terlalu cair akan menyebabkan mutu beton rendah, dan lama mengering. Sedangkan campuran beton yang terlalu kering menyebabkan adukan tidak merata dan sulit untuk dicetak.
Uji Slump mengacu pada SNI 1972-2008 dan ICS 91.100.30
Slump dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan (biasanya ketika ready mix sampai, diuji setiap kedatangan). Hasil dari Uji Slump beton yaitu nilai slump. Nilai yang tertera dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan mempunyai standar.
BAHAN:

  1. Beton Segar (fresh concrete) yang diambil secara acak agar dapat mewakili beton secara keseluruhan.


PERALATAN:

  1. Kerucut terpenggal (kerucut yang bagian runcingnya hilang) sebagai cetakan slump. Diameter bawah 30 cm, diameter atas 10 cm, tinggi 30 cm. 
  2. Batang logam bulat dengan panjang ± 50 cm diameter 10-16 mm.
  3. Pelat Logam rata dan kedap air sebagai alas
  4. Sendok adukan
  5. Pita Ukur
Kerucut Slump
Kerucut Uji

TAHAPAN UJI SLUMP:

  1. Basahi cetakan kerucut dan plat dengan kain basah
  2. Letakkan cetakan di atas plat
  3. Isi 1/3 cetakan dengan beton segar, padatkan dengan batang logam sebanyak merata dengan menusukkannya. Lapisan ini penusukan bagian tepi dilakukan dengan besi dimiringkan sesuai dengan dinding cetakan. Pastikan besi menyentuh dasar. Lakukan 25-30 x tusukan.
  4. Isi 1/3 bagian berikutnya (menjadi terisi 2/3) dengan hal yang sama sebanyak 25-30 x tusukan. Pastikan besi menyentuh lapisan pertama.
  5. Isi 1/3 akhir seperti tahapan nomor 4
  6. Setelah selesai dipadatkan, ratakan permukaan benda uji, tunggu kira-kira 1/2 menit. Sambil menunggu bersihkan kelebihan beton di luar cetakan dan di plat.
  7. Cetakan diangkat perlahan TEGAK LURUS ke atas
  8. Ukur nilai slump dengan membalikkan kerucut di sebelahnya menggunakan perbedaan tinggi rata-rata dari benda uji.
  9. Toleransi nilai slump dari beton segar  ±  2 cm 
  10. Jika nilai slump sesuai dengan standar, maka beton dapat digunakan
Pemadatan Slump
Pemadatan
uji slump
Mengangkat Kerucut
Uji Slump
Mengukur Tinggi Slump
PERHITUNGAN NILAI SLUMP
NILAI SLUMP = Tinggi cetakan - tinggi ratarata benda uji

Bentuk Slump akan berbeda sesuai dengan kadar airnya. 

Nilai Slump
  • Gambar 1 : Collapse / runtuh
Keadaan ini disebabkan terlalu banyak air/basah sehingga campuran dalam cetakan runtuh sempurna. Bisa juga karena merupakan campuran yang workabilitynya tinggi yang diperuntukkan untuk lokasi pengecoran tertentu sehingga memudahkan pemadatan,
  • Gambar 2 : Shear 
Pada keadaan ini bagian atas sebagian bertahan, sebagian runtuh sehingga berbentuk miring, mungkin terjadi karena adukan belum rata tercampur.
  • Gambar 3 : True
Merupakan bentuk slump yang benar dan ideal.
Jika pada sat uji slump bentuk yang dihasilkan adalah collapse atau shear, maka tidak perlu membuat campuran baru terburu-buru. Cukup ambil sample beton segar yang baru dan mengulang pengujian.
Standar nilai slump yang biasa dipakai (wikipedia.com)
0-25 mm untuk jalan raya
10-40 mm untuk pondasi (low workability)
50-90 mm untuk beton bertulang normal menggunakan vibrator (medium workability)
>100 mm untuk high workability

Namun standar setiap negara kadang berbeda. Berdasarkan ACI Commitee 2011 :
Uji Slump
Tabel nilai slump berdasarkan ACI
Berdasarkan Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971
 :
Slum PBBI
Tabel Slump berdasarkan PBBI 1971
Kelebihan dari Uji Slump adalah dapat dilakukan oleh semua orang: mudah dilakukan dan mudah diukur, bahkan oleh tukang / pekerja sekalipun. Sehingga Uji ini lebih populer dibandingkan uji lainnya dan sampai saat ini masih digunakan.

Menggambar Hiperbola

Menggambar Hiperbola

  • Buatlah sumbu X dan Y
  • Buatlah lingkaran pusat C dan bujur sangkar
  • Tarik garis menyilang melalui sudut diagonal dari bujur sangkar
  • Pada sumbu X berpotongan di V dan V1
  • Tentukan pusat putaran hiperbola F dan F1 dengan jarak dari V dan V1 setengah jarak jari-jari lingkaran sehingga FV = F1V1
  • Tentukan titik A, A1, A2, A3, dan A4 pada sumbu X
  • Jarak AA1 = A1A2 = A2A3 = A3A4
  • Buatlah busur dari titik F dengan jarak AV di potongan busur dari titik F1 dengan jarak AV1, kemudian dibalik dari titik F‘ dengan jarak AV di potongan busur dari titik F dengan jarak AV1
  • Dan seterusnya jarak busur A1V dan A1V1, A2V dan A2V1, A3V dan A3V1, dan yang terakhir A4V dan A4V1, pusat putarannya bergantian dari titik F dan F1
  • Hasil perpotongan dihubungkan membentuk gambar hiperbola

Menggambar Parabola

Menggambar Parabola

  • Buatlah garis bantu sejajar arah tegak 10 bagian dengan jarak yang sama
  • Buat juga garis bantu sejajar arah mendatar 5 bagian sama panjang
  • Jarak garis mendatar lebih lebar daripada jarak arah tegak
  • Hubungkan dari titik 0 tepi ke titik 1, 2, 3, 4, dan 5 tengah atau juga hubungkan garis dari titik 5 tengah ke titik 1, 2, 3, 4 tepi
  • Hasil tarikan garis tersebut akan dipotongkan dengan garis tegak yaitu 01, 51 dengan garis tegak A, garis 02, 52 dengan garis tegak B, garis 03, 53 dengan garis tegak C dan garis 04, 54 dengan garis D serta sebagai puncaknya garis E5
  • Perpotongan garis-garis tersebut merupakan titik penghubung dalam pembuatan garis parabola.

Menggambar Ellips

Menggambar Ellips

– Bagilah sumbu AB dalam 4 bagian sama panjang, maka diperoleh titik M1, M2, dan M3
– Buatlah lingkaran 2, 2, dan 3 dengan jari-jari ¼ panjang sumbu dengan titik pusat lingkaran M1, M2, dan M3
– Ketiga lingkaran tersebut saling berpotongan di titik C, D, E, dan F
– Tarik garis M1C, M1E, dan M3D, M3F yang memotong keliling lingkaran di titik G, H, I, dan J
– Garis M2C dan M3D berpotongan di titik N1, sedangkan M1E dan M3F berpotongan di titik N2
– Titik N1 dan N2 sebagai pusat dari busur lingkaran Bh dan IJ
Menggambar Bulat Telur
Lebar ditentukan
– Buatlah CD tegak lurus garis AB dan buatlah lingkaran di tengah AB
– Buatlah garis melalui CB dan DB
– Buatlah busur lingkaran jari-jari CD = AB dari titik C dan D hingga memotong di titik E dan F. Seterusnya buat busur lingkaran dari titik B jari-jari BE = BF, maka tergambarlah bulat telur